Ternyata dapur Program Makan Bergizi Gratis tak boleh libur selama Ramadan. Bukan karena takut anak-anak kelaparan—itu terlalu sederhana—melainkan karena kalender politik tidak mengenal puasa. Di saat sebagian orang menahan lapar, dapur justru diminta menahan citra. Sebab dalam negeri ini, yang paling tidak boleh kosong bukan perut, melainkan panggung.
Logikanya dibuat rapi: walau murid berpuasa, program tetap berjalan demi konsistensi. Konsistensi, kata yang terdengar ilmiah, padahal sering berarti "jangan sampai ada celah kritik." Bayangkan jika dapur ikut rehat—nanti ada yang bertanya, "Kalau bisa libur sebulan, kenapa tak bisa evaluasi setahun?" Pertanyaan seperti ini berbahaya, bisa merusak narasi bahwa semua berjalan mulus seperti bubur tanpa santan.
Maka dapur tetap mengepul. Makanan tetap dimasak. Bedanya, distribusi diatur ulang: ada yang dibawa pulang untuk berbuka, ada yang dikemas lebih rapi agar tetap fotogenik meski disantap selepas azan. Sebab yang penting bukan hanya gizinya, tapi juga dokumentasinya. Kamera tak pernah puasa. Ia tetap butuh konten, dan konten butuh panci yang menyala.
Petugas dapur pun menjadi pahlawan sunyi Ramadan. Saat orang lain mengejar takjil, mereka mengejar target porsi. Ironisnya, yang memasak mungkin ikut berpuasa, sementara yang dipikirkan bukan semata nutrisi, melainkan headline. Dapur tak boleh padam karena api simbolik lebih penting daripada api kompor itu sendiri.
Penjelasan resmi tentu terdengar mulia: keberlanjutan program, komitmen negara, kepastian layanan. Semua terdengar seperti brosur kebijakan yang baru dicetak. Tak ada yang menyebut bahwa menghentikan aktivitas, walau sementara, bisa membuka ruang refleksi. Dan refleksi adalah kemewahan yang sering dianggap tidak produktif.
Di media sosial, argumen pun bertebaran. Ada yang memuji ketegasan: negara hadir bahkan saat puasa. Ada yang bertanya pelan: hadir untuk siapa, dan dalam bentuk apa? Tapi pertanyaan itu kalah cepat oleh unggahan foto nasi kotak dengan label "Spesial Ramadan." Jika lapar adalah ujian, maka konsistensi citra adalah ambisi.
Pada akhirnya, dapur MBG tidak boleh libur karena jeda sering dianggap kelemahan. Padahal mungkin justru di sanalah kebijakan bisa bernapas. Namun di negeri yang alergi pada pause, Ramadan bukan alasan untuk berhenti—ia hanya latar tambahan agar cerita terlihat lebih religius. Api tetap menyala, bukan semata untuk memasak, tapi untuk memastikan bahwa program tetap hangat di pemberitaan, meski perut sedang belajar menunggu waktu.