Di dapur-dapur sekolah Wamena, panci-panci mendadak bermetamorfosis menjadi versi deluxe. Nasi yang biasanya datang dengan lauk ala kadarnya tiba-tiba disandingkan dengan ayam yang utuh, sayur berwarna cerah, dan telur yang tak malu-malu menunjukkan kuningnya. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang selama ini terasa seperti versi demo kini tampil sebagai edisi premium hanya karena seorang wakil presiden turun dari pesawat. Anak-anak yang biasanya sudah hafal rasanya tahu dan tempe hari ini dibuat bingung oleh kemewahan baru: "Ini menu atau jamuan pernikahan?"
Para guru ikut tercengang. Bukan karena murid-murid tiba-tiba lahap, tapi karena logistik yang biasanya datang dengan iritasi anggaran kini datang dengan karpet merah. Truk pengantar bahan pangan seperti baru saja memenangkan tender dadakan. Semua tampak rapi, bersih, dan fotogenik. Bahkan sendok pun terlihat lebih berkilau, seolah tahu kamera sedang menunggu. MBG mendadak bukan lagi soal gizi, tapi soal estetika politik.
Di sudut lain, petugas dapur yang sehari-hari berjuang menakar beras kini menakar reputasi. Porsi yang biasanya pas-pasan sekarang mendadak royal. Kalau biasanya satu ayam bisa dibagi untuk lima anak, hari itu satu anak bisa mendapat satu potong yang layak diunggah ke Instagram. Seakan-akan ayam pun tahu siapa yang datang, dan memutuskan untuk tampil lebih berdaging.
Sementara itu, para pejabat daerah berlomba menjelaskan bahwa ini semua "kebetulan saja". Kebetulan stok lagi penuh. Kebetulan cuaca mendukung. Kebetulan anggaran tidak sedang diet. Kebetulan pula Wapres Gibran lewat. Rangkaian kebetulan ini terlalu rapi untuk disebut takdir, tapi cukup berantakan untuk disebut kebijakan.
Anak-anak menikmati pesta kecil mereka, meski tanpa sadar sedang menjadi figuran dalam sinetron kesejahteraan. Mereka tak tahu bahwa besok, ketika rombongan pergi dan kamera kembali ke Jakarta, menu mungkin akan kembali ke mode hemat. MBG akan kembali menjadi program yang lebih banyak janji daripada protein.
Para orang tua yang mendengar cerita itu tersenyum getir. Mereka bahagia anaknya makan enak, tapi juga sadar bahwa keadilan sosial rupanya bisa dipesan seperti katering: spesial jika ada tamu penting. Negara, dalam adegan ini, tampak seperti tuan rumah yang baru bersih-bersih ketika tahu mertua datang.
Dan Wamena, dengan segala kesederhanaannya, sekali lagi menjadi panggung tempat kesejahteraan dipamerkan bukan sebagai hak, tapi sebagai dekorasi. Di balik nasi yang menggunung dan lauk yang mewah, terselip pesan tak tertulis: kalau mau hidup layak, tunggulah pejabat lewat. Kalau tidak, nikmati saja versi ringkas dari mimpi.