Ahmad Sahroni Kembali Ditetapkan Jadi Pimpinan Komisi III DPR RI

Menu Atas

Header Menu

.....

Ahmad Sahroni Kembali Ditetapkan Jadi Pimpinan Komisi III DPR RI

Rabu, 18 Februari 2026

Gambar Berita

Ahmad Sahroni kembali ditetapkan menjadi pimpinan Komisi III DPR RI, membuktikan bahwa di negeri ini yang paling konsisten bukanlah penegakan hukum, melainkan penempatan orang yang sama di kursi yang sama dengan semangat yang juga kurang lebih sama. Publik pun kembali diingatkan bahwa rotasi jabatan itu penting, asalkan tidak benar-benar dipraktikkan.

Dengan penuh khidmat, keputusan itu disambut tepuk tangan yang terdengar seperti notifikasi grup WhatsApp: ramai, tapi isinya itu-itu saja. Sahroni disebut berpengalaman, memahami ritme kerja komisi, dan sudah hafal letak mikrofon saat rapat maraton hingga larut malam. Sebuah keahlian teknis yang tampaknya lebih langka daripada keberanian membongkar kasus besar tanpa pandang bulu.

Komisi III yang membidangi hukum, HAM, dan keamanan kembali berada di tangan figur yang dinilai tegas. Tegas dalam memberi pernyataan, tegas dalam memasang wajah serius di konferensi pers, dan tegas memastikan rapat tetap berjalan meski substansi kadang berjalan di tempat. Di tengah berbagai perkara yang menggantung, publik tentu merasa tenang karena setidaknya tata letak kursi pimpinan sudah pasti.

Penetapan ini juga menjadi bukti bahwa demokrasi kita sehat. Sangat sehat sampai-sampai tidak perlu terlalu sering ganti resep. Wajah lama, janji lama, semangat lama, dengan harapan baru yang selalu terdengar segar setiap periode. Seperti sinetron panjang yang tokohnya tidak pernah benar-benar pensiun, hanya berganti alur konflik agar rating tetap stabil.

Sebagian masyarakat menyambut dengan optimisme, berharap Komisi III benar-benar menjadi pengawas tajam bagi aparat penegak hukum. Sebagian lain menyambut dengan senyum tipis, karena pengalaman mengajarkan bahwa ketajaman sering kali tumpul ketika berhadapan dengan kepentingan yang lebih besar dari sekadar headline.

Sementara itu, agenda rapat sudah menunggu: evaluasi kinerja, pembahasan undang-undang, dan tentu saja sesi saling mengingatkan bahwa lembaga ini bekerja untuk rakyat. Rakyat yang sama yang setiap hari menyaksikan drama hukum di layar televisi dan bertanya-tanya apakah naskahnya pernah diganti.

Kembalinya Sahroni ke kursi pimpinan menjadi simbol stabilitas. Stabil dalam arti tidak banyak berubah. Dan di tengah perubahan dunia yang begitu cepat, mungkin memang ada rasa nyaman melihat sesuatu tetap seperti dulu. Walau yang tetap itu adalah harapan yang berulang-ulang dititipkan, lalu perlahan dilupakan ketika palu sidang diketuk.