Setelah Bigmo, Ferry Irwandi Akan Undang Mama Gufron ke Devils Advocate

Menu Atas

Header Menu

.....

Setelah Bigmo, Ferry Irwandi Akan Undang Mama Gufron ke Devils Advocate

Selasa, 17 Februari 2026

Gambar Berita

Setelah episode bersama Bigmo yang bikin linimasa panas-dingin seperti kopi saset kelamaan diaduk, Ferry Irwandi tampaknya belum puas menguji daya tahan internet. Kali ini, kursi panas di program Devil's Advocate kabarnya akan diisi oleh sosok yang tak kalah magnetik: Mama Gufron. Sebuah kombinasi yang terdengar seperti eksperimen sosial dengan rating dijamin stabil.

Jika Devil's Advocate selama ini dikenal sebagai arena adu argumen dengan logika sebagai wasit, maka mengundang Mama Gufron ibarat menguji apakah wasitnya masih percaya pada aturan fisika. Ferry dikenal gemar menguliti klaim dengan pertanyaan tajam, sementara Mama Gufron dikenal lentur menghadapi realitas—bahkan terkadang lebih lentur dari timeline sejarah itu sendiri.

Publik pun terbelah seperti biasa. Ada yang bersorak, "Akhirnya!" berharap episode ini menjadi gladi resik antara rasionalitas dan kepercayaan. Ada pula yang khawatir, jangan-jangan ini cuma jadi panggung saling monolog, di mana data dan keyakinan berbicara dalam bahasa berbeda, tapi sama-sama ingin menang.

Secara dramaturgi, ini brilian. Devil's Advocate memang dibangun atas premis membela sisi yang sulit dibela. Setelah Bigmo, standar absurditas sudah naik beberapa tingkat. Menghadirkan Mama Gufron seperti menaikkan level permainan: bukan lagi sekadar debat, tapi uji ketahanan logika terhadap narasi yang tak selalu tunduk pada kalender masehi.

Yang menarik, internet selalu punya dua selera sekaligus: ingin klarifikasi, tapi juga ingin sensasi. Ferry mungkin datang dengan daftar pertanyaan dan potongan arsip. Mama Gufron mungkin datang dengan ketenangan khas orang yang merasa tak perlu diverifikasi. Dan penonton? Datang dengan popcorn digital, siap meng-clip momen paling canggung untuk dijadikan bahan meme.

Di balik semua itu, ada pelajaran kecil tentang zaman ini: siapa pun bisa duduk di kursi yang sama, entah membawa jurnal ilmiah atau cerita kosmik. Platform tak lagi membedakan mana tesis, mana testimoni. Semua diberi mikrofon yang sama besar, tinggal publik yang memilih volume mana yang mau diperkeras.

Jika episode ini benar terjadi, kemungkinan besar ia akan trending. Bukan karena menemukan kebenaran final, tapi karena memperlihatkan betapa jauhnya dua cara pandang bisa duduk dalam satu frame 16:9. Dan mungkin di situlah daya tariknya: bukan pada jawaban, melainkan pada momen ketika pertanyaan bertemu keyakinan—dan keduanya sama-sama merasa paling masuk akal.