Ijazah Jokowi Akan Ditunjukkan Ke Publik Pada Malam Lailatul Qadar

Menu Atas

Header Menu

.....

Ijazah Jokowi Akan Ditunjukkan Ke Publik Pada Malam Lailatul Qadar

Selasa, 17 Februari 2026

Gambar Berita

Pemerintah akhirnya menemukan momentum paling sakral untuk mengakhiri polemik ijazah Presiden: malam Lailatul Qadar. Setelah rapat lintas kementerian, diskusi panel ahli tafsir, serta konsultasi dengan tim branding nasional, diputuskan bahwa dokumen pendidikan tersebut baru akan diperlihatkan ke publik pada malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.

Alasannya sederhana. Jika malam itu penuh kemuliaan, maka semoga warganet juga ikut mulia dan berhenti berdebat di kolom komentar.

Menurut sumber internal yang tidak mau disebut namanya karena takut dijadikan meme, pemilihan Lailatul Qadar dilakukan demi menjaga kekhusyukan nasional. "Kalau diumumkan siang hari, nanti kalah sama diskon e-commerce. Kalau malam biasa, kalah sama live TikTok. Jadi ya sekalian malam yang penuh pahala," ujarnya sambil memastikan mic sudah mati.

Panitia khusus pun dibentuk. Ada seksi dokumentasi, seksi pencahayaan, dan seksi pencari hilal fotokopi. Ijazah tersebut rencananya akan ditampilkan secara simbolis, mungkin melalui layar LED raksasa atau proyektor yang diarahkan ke langit agar sekalian bisa dilihat malaikat yang sedang turun.

Sebagian masyarakat menyambut dengan penuh harap. Mereka percaya, siapa pun yang menyaksikan tayangan ijazah pada malam itu akan mendapatkan dua hal sekaligus: jawaban dan pahala. Bahkan ada yang sudah menyiapkan takjil khusus bertema arsip negara.

Namun tidak sedikit yang tetap skeptis. Mereka mempertanyakan teknisnya. Apakah ijazah akan diperlihatkan full HD? Apakah ada watermark? Apakah akan tersedia fitur zoom agar bisa memeriksa tanda tangan dan stempel dengan khusyuk?

Seorang pengamat politik mengatakan ini adalah inovasi spiritual dalam transparansi publik. "Biasanya keterbukaan informasi dilakukan lewat konferensi pers. Ini lewat konferensi iman," katanya sambil mengangguk serius.

Sementara itu, warganet sudah membagi dua kubu: tim yang siap menyambut dengan doa, dan tim yang siap menyambut dengan screenshot. Server media sosial diperkirakan akan bekerja lebih keras dari malaikat pencatat amal.

Di sisi lain, ada usulan agar setelah ijazah ditampilkan, polemik resmi ditutup dengan pembacaan notulen dan mungkin sedikit tausiyah tentang pentingnya arsip sejak dini. Karena di negeri ini, yang lebih sakral dari malam seribu bulan hanyalah dokumen yang difotokopi berulang kali.

Jika benar malam itu menjadi momen pencerahan nasional, setidaknya bangsa ini belajar satu hal: transparansi memang penting, tapi timing jauh lebih penting. Terutama jika bisa sekalian panen pahala dan rating.