Selain Pelayanan Buruk, Dokter di RS Mayjen H. A. Thalib Juga Sering Salah Diagnosa

Menu Atas

Header Menu

.....

Selain Pelayanan Buruk, Dokter di RS Mayjen H. A. Thalib Juga Sering Salah Diagnosa

Sabtu, 21 Februari 2026

Gambar Berita

Di sebuah rumah sakit daerah yang namanya tak perlu disebut—karena yang disebut sering kali justru pasiennya—keluhan datang lebih cepat daripada hasil laboratorium. Antrean panjang sudah seperti ritual pagi, sementara kepastian diagnosa terasa seperti undian berhadiah: siapa tahu hari ini cocok, siapa tahu besok revisi.

Pelayanan disebut "prosedural". Pasien datang dengan keluhan pusing, pulang dengan tiga kemungkinan: kurang tidur, kurang minum, atau kurang sabar. Jika sakit tak kunjung sembuh, bukan berarti diagnosanya keliru—mungkin pasiennya yang terlalu perfeksionis mengharapkan akurasi. Bukankah dalam hidup, sedikit misteri membuat semuanya lebih menantang?

Di ruang tunggu, keluarga pasien sudah hafal alurnya. Daftar, tunggu, diperiksa sekilas, ditebus dengan resep yang tulisannya lebih abstrak daripada lukisan modern. Apoteker pun kadang menebak dengan intuisi, karena membaca resep dokter tertentu butuh bakat forensik. Di sini, ilmu kedokteran bertemu seni interpretasi.

Tentu saja, manajemen selalu punya penjelasan elegan. Dokter kekurangan, alat terbatas, pasien membludak. Semua benar, semua masuk akal. Hanya saja, entah mengapa yang sering terasa kurang justru rasa tenang. Pasien lebih sering didiagnosa "cemas berlebihan" ketimbang sistem yang memang kewalahan.

Jika ada yang berani protes, jawabannya diplomatis: "Sudah sesuai SOP." SOP menjadi tameng sakti. Ia kebal kritik, tahan banting, dan fleksibel makna. Ketika diagnosa berubah di kunjungan kedua, itu disebut "perkembangan kondisi". Ketika obat diganti tiga kali, itu dinamakan "penyesuaian terapi". Kata "salah" terlalu vulgar untuk dipakai di ruang ber-AC.

Ironisnya, tenaga medis di sana mungkin bekerja setengah mati. Lelah, kurang istirahat, dikejar target administrasi. Namun sistem yang compang-camping sering membuat profesionalisme tampak seperti lotre. Bukan karena tak mampu, tapi karena beban terlalu berat untuk ditopang dengan senyum saja.

Warganet lalu ramai-ramai menjadi dokter dadakan. Hasil Google dan video pendek berdurasi 60 detik terasa lebih meyakinkan daripada konsultasi lima menit. Kepercayaan publik retak pelan-pelan, bukan karena satu kesalahan besar, melainkan akumulasi rasa tak puas yang dibiarkan menumpuk seperti berkas rekam medis lama.

Pada akhirnya, yang paling sakit bukan hanya pasien, melainkan harapan. Harapan bahwa ketika tubuh rapuh, sistem akan kokoh. Harapan bahwa diagnosa bukan tebak-tebakan berbalut istilah Latin. Dan harapan bahwa suatu hari nanti, pelayanan kesehatan tak lagi defensif terhadap kritik, melainkan alergi terhadap kesalahan.